Beranda > doa doa islam > Sikap Terhadap Pelaku Bid’ah dan Manhaj Ahlus Sunnah Dalam Menyanggah Pelaku Bid’ah

Sikap Terhadap Pelaku Bid’ah dan Manhaj Ahlus Sunnah Dalam Menyanggah Pelaku Bid’ah

A. Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap pelaku bid’ah

Dari Ummud Darda’ radhiallahu ‘anha , dia berkata: “Abud Darda’ datang menemuiku dalam keadaan jengkel. Lalu aku bertanya: “Ada apa denganmu!” Dia menjawab: “Demi Allah, aku tidak melihat mereka sedikitpun berada pada ajaran Muhammad, hanya saja mereka semua melakukan shalat.” (HR Al-Bukhari)

Dari Umar bin Yahya dia berkata: “Aku mendengar ayahku menceritakan dari bapaknya, dia berkata: “Adalah kami sedang duduk-duduk di pintu (rumah) Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu sebelum shalat Dzuhur –(biasanya) bila dia keluar (dari rumahnya) kamipun pergi bersamanya ke mesjid-, tiba-tiba datang Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu dan berkata: “Adakah Abu Abdir Rahman (Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu) telah keluar pada kalian?”

Kami menjawab: “Belum,” lalu dia pun duduk bersama kami sampai akhirnya Abdullah bin Mas’ud keluar. Setelah dia keluar, kami berdiri menemuinya dan Abu Musa Al-Asy’ari berkata: “Wahai Abu Abdi Rahman, tadi aku melihat dimasjid suatu perkara yang aku mengingkari, dan alhamdulillah aku tidak melihatnya kecuali kebaikan.” Dia bertanya: “Apa itu?” Abu Musa menjawab: “Bila kau masih hdiup niscaya kau akan melihatnya sendiri.”

Abu musa lalu berkata: “Aku melihat dimasjid beberapa kelompok orang yang duduk dalam bentuk lingkaran sambil menunggu (waktu) shalat. Dalam setiap lingkaran itu ada seseorang laki-laki dan ditangan tangan mereka ada batu-batu kecil, orang laki-laki itu berkata: “Bacalah takbir 100 kali,” merekapun bertakbir 100 kali, kemudian berkata lagi: “bacalah tahlil 100 kali,” merekapun bertahlil 100 kali, kemudian mereka berkata lagi: “Bacalah tasbih 100 kali,” mereka pun bertasbih 100 kali. Abdullah bin Mas’ud bertanya: “Apa yang kamu katakan pada mereka!”

Abu Musa menjawab: “Aku tidak mengatakan apapun pada mereka, karena aku menunggu pendapatmu atau menunggu perintahmu!” Abudlllah bin Mas’ud menjawab: “Tidakkah kamu perintahkan pada mereka untuk menghitung kesalahan-kesalahan mereka, dan kau beri jaminan bagi mereka bahwa tidak ada sedikitupun dari kebaikan mereka yang akan hilang begitu saja?”

Kemudian dia pergi dan kami pun ikut bersamanya, hingga tiba disalah satu kelompok dari kelompok-kelompok (yang ada dimasjid) dan berdiri dihadapan mereka, lalu berkata: “Apa yang kalian sedang kerjakan?” Mereka menjawab: “Ya Abu Abdir Rahman, (ini adalah) batu-batu kecil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, tasbih dan tahmid.”

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian. Aku akan menjamin bahwa tidak ada sedikitupun dari kebaikan-kebiakan kalian yang akan hilang begitu saja. Celaka kalian wahai umat Muhammad, alahkah cepatnya kebinasaan kalian, lihat sahabat-shabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih banyak, baju-baju beliau belum rusak dan bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh (apakah) kalian ini berada pada ajaran yang lebih baik dari ajaran Muhammad ataukah kalian sedang membuka pintu kesesatan.”

Mereka menjawab: “Demi Allah, wahai Abu Abdir Rahman, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan.” Abdulah bin Mas’ud berkata: “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak dapat meraihnya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami bahwa ada sekelompok orang yang membaca Al-Qur’an tapi hanya sampai sebatas kerongkongan mereka saja. Demi Allah, aku tidak tahu barangkalai sebagian besar mereka dari kalian-kalian ini.”

Kemudia dia pergi dan Amr bin Maslamah berkata: “Kami lihat sebagian besar mereka memerangi kita pada perang Nahrawan bersama dengan kelompok Khawarij.” (HR Ad-Darimy)

Ada seorang laki-laki yang datang kepada Imam malik bin Anas rahimahullah, dia bertanya: “Darimana saya akan mulai berihram?” Imam Malik menjawab: “Dari Miqat yang ditentukan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam yang beliau berihram dari sana. “Dia bertanya lagi:”Bagaimana jika aku berihram dari tempat yang lebih jauh dari itu?”
Dijawab: “Aku tidak setuju itu.” Tanyanya lagi: “Apa yang tidak kau suka dari itu?” Imam malik berkata: “Aku takut kau terjatuh pada sebuah fitnah!” Dia berkata lagi: “Fitnah apa yang terjadi dalam menambah kebaikan?” Imam Malik berkata: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa adzab yang pedih.” (An-Nur:63). Dan fitnah apakah yang lebih besar daripada engkau dikhususkan dengan sebuah karunia yang tidak diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

B. Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menyanggah pelaku bid’ah

Misalnya :

Imam Ahmad yang menulis buku khusus membantah kelompok Jahmiyah
Ustman bin Said Ad-Darimi
Karya karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim
Karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Dimana dalam karya-karya tadi disebutkan sanggahan terhadap banyak lairan, juga sanggahan terhadap orang-orang Quburiyyun dan kelompok Sufiyah.

 

Kategori:doa doa islam
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: